SUARATRIBUN.COM, BETUN – Matahari belum juga ramah. Teriknya seperti ingin menguji siapa yang paling kuat bertahan di atas tanah yang pernah dilanda banjir itu. Di tengah panas yang menyengat, Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran (SBS), tetap melangkah pelan menyusuri tumpukan bronjong kawat yang sedang dibangun di Desa Lamea, Kecamatan Wewiku, Selasa (17/3/26).
Tidak ada tanda lelah yang Bupati SBS tunjukkan. Kemeja yang dikenakannya sudah basah oleh keringat, namun langkahnya tak berhenti. Ia sesekali berhenti, menatap aliran sungai yang dulu meluap dan mengancam rumah-rumah warga.
“Ini bukan sekadar bangunan, ini benteng untuk masa depan masyarakat,” ucapnya pelan, namun tegas.
Di sekelilingnya, warga berdiri memperhatikan. Ada yang ikut bekerja, ada pula yang sekadar melihat dengan harapan yang perlahan tumbuh. Bagi mereka, bronjong ini bukan hanya susunan batu dalam kawat, tetapi jawaban atas rasa takut yang selama ini menghantui setiap musim hujan datang.
Seorang warga tua, yang rumahnya pernah terendam banjir beberapa waktu lalu, mengaku baru kali ini merasa sedikit tenang. “Sudah ada bronjong kawat, kami tidak takut lagi seperti dulu,” katanya.
Bupati SBS mendekat, menyapa, bahkan sesekali berdialog ringan dengan warga. Ia tidak menjaga jarak. Baginya, memastikan keselamatan masyarakat bukan hanya tugas di atas meja, tetapi harus dilihat, disentuh, dan dirasakan langsung.
Selama beberapa hari terakhir, ia terus turun ke lapangan yakni dari Desa Oekmurak, Desa Oanmane hingga Desa Lamea untuk memastikan setiap titik rawan mendapat perhatian. Baginya, waktu yang tersisa dalam masa jabatan harus diisi dengan kerja nyata, bukan sekadar janji.
