Ia mengatakan, era digital memberikan peluang besar bagi Gereja untuk memperluas karya pewartaan dan pelayanan kepada umat.
Namun, penggunaan teknologi juga harus disertai tanggung jawab moral agar media digital tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang untuk menyebarkan kebaikan, persaudaraan, kebenaran, dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Imam diosesan memiliki peran penting sebagai gembala umat. Di tengah derasnya arus informasi, hoaks, dan berbagai tantangan moral di ruang digital, kehadiran para imam sangat dibutuhkan untuk memberikan pencerahan dan pendampingan kepada umat,” lanjutnya.
ABS berharap Munas XV Unio Indonesia dapat menghasilkan rumusan dan rekomendasi yang mampu memperkuat pelayanan para imam diosesan di seluruh Indonesia.
“Semoga pertemuan ini tidak hanya menjadi forum musyawarah, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan para imam, memperkuat pelayanan pastoral, dan menghadirkan Gereja yang semakin dekat dengan umat di tengah perkembangan zaman,” harapnya.
Munas XV Jadi Momentum Persaudaraan Gereja
Pelaksanaan Munas XV Unio Indonesia di Pematangsiantar menjadi momentum penting bagi para imam diosesan untuk melakukan refleksi bersama terhadap kehidupan imamat dan pelayanan Gereja di Indonesia.
Selain membahas tema utama, Munas juga menjadi ruang evaluasi, pertukaran pengalaman pastoral, serta penyusunan arah pelayanan Unio Indonesia ke depan.
Rangkaian kegiatan yang diawali dengan perayaan Misa Kudus bersama para uskup menegaskan bahwa seluruh proses musyawarah Unio Indonesia tidak hanya berorientasi pada organisasi, tetapi juga berakar pada kehidupan iman dan panggilan pelayanan Gereja.