“Terimalah Maria yang berarak ke paroki-paroki kita. Maria datang bersama Yesus Kristus. Kita minta Maria mendoakan kita kepada Yesus. Maria memeluk kita, bumi Malaka, untuk membawa kita pada Yesus,” ujarnya.
Selain itu, Pater Vincent menyampaikan pesan Uskup Atambua agar semarak perarakan Bunda Maria berjalan seiring dengan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yang berlangsung sepanjang September.
Dengan tema “Yesus Guru yang Penuh Kuasa”, umat diajak tetap menjadikan Kitab Suci sebagai bagian penting dari permenungan selama mengikuti rangkaian perarakan.
Tradisi perarakan Patung Bunda Maria di Malaka merupakan warisan iman yang telah dipelihara sejak 1958. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada tahun genap dan hingga 2026 tetap menjadi salah satu momentum penting yang mempererat persatuan para imam, diakon, frater, suster, serta seluruh umat Katolik di Dekenat Malaka.
Usai Misa Pembukaan, Patung Bunda Maria langsung diarak menuju tujuan pertama di Lingkungan Matai, Paroki Betun.
Dari tempat tersebut, perjalanan iman Nai Feto Malaka resmi dimulai, menyusuri paroki-paroki di seluruh tanah Malaka hingga akhirnya kembali untuk Misa Penutupan di Gua Maria Fatima Betun pada akhir Oktober mendatang.(*)