SUARATRIBUN.COM,BETUN – Ribuan umat Katolik dari 20 paroki di Dekenat Malaka memadati Panggung Tahbisan Betun, Selasa (1/9/2026) sore. Mereka mengikuti Misa Pembukaan Perarakan Patung Bunda Maria yang dipimpin langsung oleh Vicaris Generalis (Vikjen) Keuskupan Atambua, Pater Vincent Wun, SVD.
Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 15.30 WITA tersebut menjadi penanda dimulainya perjalanan iman Patung Bunda Maria mengelilingi seluruh paroki di wilayah Dekenat Malaka selama dua bulan, sejak 1 September hingga 31 Oktober 2026.
Perarakan akbar tersebut nantinya akan ditutup dengan Misa Penutupan di Gua Maria Fatima Betun.
Dalam homilinya yang mengangkat tema “Malaka dalam Pelukan Nai Feto Malaka”, Pater Vincent mengajak umat menjadikan momentum perarakan pada tahun genap ini sebagai ruang permenungan iman.
Menurutnya, inti kehidupan beriman adalah cinta kasih. Karena itu, umat tidak boleh hanya berfokus pada pelaksanaan hukum-hukum agama, tetapi melupakan nilai kasih yang menjadi dasar kehidupan Kristiani.
Pater Vincent juga menjelaskan makna penghormatan kepada Bunda Maria, khususnya melalui doa Rosario.
“Rosario berasal dari pengalaman kontemplatif Bunda Maria. Saat menyebutkan Salam Maria, kita mengarahkan diri pada peristiwa-peristiwa Yesus. Itulah jiwa dari Rosario, sebuah Kitab Suci kecil sebagaimana dikatakan oleh Paus Paulus II,” tutur Pater Vincent.
Ia sekaligus mengingatkan umat agar memahami dengan benar ajaran Gereja Katolik mengenai penghormatan kepada Bunda Maria.
Menurutnya, umat Katolik tidak menyembah patung. Patung hanyalah sarana untuk membantu umat mengarahkan hati kepada Allah, sedangkan penghormatan kepada Bunda Maria pada akhirnya harus membawa umat semakin dekat kepada Yesus Kristus dan kemuliaan Allah Tritunggal.