Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan kuatnya ruang perjumpaan antara Gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun kehidupan sosial yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan iman, khususnya di wilayah perbatasan.
Ritus Pentahbisan Penuh Kekhusyukan
Ritus pentahbisan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekhusyukan.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika Litani Para Kudus dilantunkan. Ketiga calon imam merebahkan diri di lantai gereja sebagai simbol penyerahan diri secara total kepada Allah dan Gereja.
Momen tersebut disaksikan umat dan keluarga dengan penuh haru.
Setelah seluruh rangkaian perayaan Ekaristi selesai, acara dilanjutkan dengan resepsi sederhana dalam suasana kekeluargaan.
Bupati SBS tampak menyapa umat dan para tamu undangan serta membaur dalam kebersamaan yang hangat.
Pentahbisan tiga imam baru itu menjadi kabar sukacita bagi Gereja Katolik di wilayah perbatasan Nusa Tenggara Timur.
Di tengah tantangan kehidupan dan perubahan zaman, kehadiran tiga imam baru tersebut diharapkan semakin memperkuat pelayanan pastoral, meneguhkan iman umat, serta menghadirkan sosok gembala yang dekat dan bekerja bersama masyarakat.
Hari itu, Paroki Santo Antonius Padua Sasi bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah ritus gerejawi. Gereja tersebut menjadi saksi tumbuhnya panggilan, berlanjutnya pelayanan, dan lahirnya harapan baru bagi umat.(*)