“Biasanya tim lawan sulit menang di kandang Imaculata FC. Banyak yang datang tapi pulang dengan kekalahan,” ungkap Hery Klau, alumni Seminari Lalian Atambua, menggambarkan kuatnya atmosfer kandang Imaculata FC.
Cerita serupa juga disampaikan Andri Bria yang menyebut laga berlangsung penuh tensi dan drama. Namun, mental bertanding para pemain muda SSB Malaka Allstar menjadi pembeda hingga mampu membawa pulang kemenangan.
Dodi menegaskan, hasil positif tersebut bukan diraih secara kebetulan. Menurutnya, kemenangan lahir dari proses panjang latihan yang dijalani para pemain setiap hari.
“Anak-anak ini berlatih rutin setiap hari. Dari yang awalnya belum maksimal, terus dibina sampai menjadi pemain yang bisa diandalkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembinaan usia dini yang dilakukan melalui sekolah sepak bola (SSB) di setiap kecamatan di Kabupaten Malaka menjadi fondasi utama lahirnya pemain-pemain potensial. Setelah menjalani pembinaan dasar, para pemain kemudian melalui tahapan seleksi hingga akhirnya bergabung bersama PS Malaka, klub kebanggaan masyarakat Kabupaten Malaka.
Menurut Dodi, semangat para pemain muda juga menjadi modal penting. Bahkan mereka yang belum lolos seleksi tetap menunjukkan kegigihan dengan terus berlatih keras demi mendapat kesempatan berikutnya.
Meski berhasil meraih dua kemenangan di kandang Imaculata FC, Dodi meminta seluruh tim tidak cepat berpuas diri. Hasil itu, kata dia, harus menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi tantangan yang lebih besar menuju Turnamen Piala Soeratin 2026.
