Contoh sederhana tersebut menunjukkan bahwa ketidakadilan dapat muncul ketika aturan diterapkan secara berbeda kepada orang-orang yang seharusnya memperoleh perlakuan setara.
Dalam konteks pemilihan Ketua OSIS, prinsip tersebut berlaku dalam setiap tahapan, termasuk pemberian kesempatan kepada calon untuk menyampaikan visi dan misi. Panitia harus menjalankan tata tertib secara konsisten dan tidak memberikan perlakuan istimewa hanya karena kedekatan pribadi.
Selain netralitas, pembekalan juga menyoroti pentingnya ketelitian dalam penghitungan suara. Putra mengingatkan bahwa kesalahan pencatatan harus diperiksa berdasarkan fakta dan diperbaiki melalui mekanisme yang berlaku di sekolah.
“Panitia yang baik bukan panitia yang tidak pernah salah, melainkan panitia yang bersedia memeriksa dan memperbaiki kesalahan secara bertanggung jawab,” demikian penegasan yang disampaikan kepada para peserta.
Kepemimpinan Diuji Sebelum dan Sesudah Pemilihan
Pembekalan tidak hanya ditujukan kepada panitia, tetapi juga kepada para calon Ketua OSIS. Putra mengajak para calon memahami bahwa kepemimpinan tidak dimulai setelah seseorang dilantik, melainkan sejak ia memutuskan untuk mengikuti proses pemilihan.
Melalui analogi kapten sepak bola, ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin tidak hanya diuji ketika timnya unggul, tetapi juga ketika menghadapi kekalahan dan tekanan.
Calon yang terpilih harus menyadari bahwa tanggung jawabnya mencakup seluruh siswa, bukan hanya mereka yang memberikan dukungan. Sebaliknya, calon yang belum terpilih tetap memiliki kesempatan untuk menyumbangkan gagasan, membantu kegiatan sekolah, dan berkontribusi bagi kepentingan bersama.
