Jika penjualan berlangsung dua kali seminggu, jumlah yang terjual mencapai sekitar 1.000 bungkus. Dalam empat minggu, penjualan dapat mencapai 8.000 bungkus dengan omzet sekitar Rp 4 juta per bulan.
Dari penghasilan tersebut, mereka harus memperhitungkan biaya operasional. Pengeluaran untuk pembelian pulsa listrik mencapai sekitar Rp100.000 per minggu atau Rp400.000 dalam empat minggu. Sementara itu, satu bal plastik disebut seharga Rp250.000.
Sisa pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan, jika memungkinkan, disisihkan untuk pendidikan anak mereka.
Bagi keluarga ini, usaha es batu bukan bisnis besar. Namun, dari usaha sederhana itulah mereka berusaha membangun kehidupan yang lebih baik.

Selain menopang ekonomi keluarga, usaha tersebut juga membantu memenuhi kebutuhan nelayan di wilayah pesisir Kletek. Es batu diperlukan agar hasil tangkapan tetap segar sebelum dibawa ke pasar.
Pindah rumah, usaha justru terhenti
Sebelum menempati rumah sendiri, Frendy dan Ana memanfaatkan rumah orang tua mereka untuk menjalankan usaha. Di tempat itulah lima lemari pembeku tersebut digunakan untuk memproduksi es batu.
Persoalan mulai muncul ketika mereka pindah ke rumah baru pada awal Juni 2026. Seluruh lemari pembeku dipindahkan, tetapi pasokan listrik di lokasi baru diduga tidak cukup memadai untuk mendukung kegiatan usaha mereka.