Menunggu listrik, menjaga harapan
Di rumahnya di Dusun Rainain B, Frendy dan Ana masih menyimpan harapan agar usaha Kios Alexa dapat kembali berjalan.
Lima lemari pembeku yang dahulu menjadi bagian penting dari kegiatan usaha mereka kini belum dapat dimanfaatkan sebagaimana yang diharapkan. Padahal, di balik setiap bungkus es batu yang dijual, ada kebutuhan keluarga yang ingin mereka penuhi dan masa depan anak yang berusaha mereka persiapkan.
Bagi para nelayan, ketersediaan es batu juga memiliki arti penting untuk menjaga hasil tangkapan sebelum dipasarkan. Karena itu, keberlanjutan usaha kecil seperti milik Frendy dan Ana turut berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Kini, warga menantikan tindak lanjut atas usulan perluasan jaringan listrik yang telah disampaikan PLN. Harapan mereka sederhana: pasokan listrik yang lebih baik, pelayanan yang semakin dekat, dan kesempatan bagi usaha kecil untuk kembali bergerak.
Kisah Frendy dan Ana menunjukkan bahwa persoalan listrik dapat menjalar jauh melampaui kabel dan tiang jaringan. Ketika pasokan listrik diduga tidak memadai, sebuah usaha rumahan dapat berhenti, pendapatan keluarga terganggu, dan kebutuhan masyarakat yang bergantung pada usaha itu ikut terdampak.
Di Desa Kletek, es batu yang tak lagi diproduksi menjadi pengingat bahwa bagi warga di wilayah perbatasan RI–RDTL, listrik bukan sekadar cahaya di malam hari.
Listrik juga berarti kesempatan untuk bekerja, mempertahankan usaha, menghidupi keluarga, dan menyiapkan masa depan anak-anak mereka.