Oleh: Novianus Laka Berek | Jurnalis Suara Tribun
SUARATRIBUN.COM, BETUN – Bagi Frendy Bere dan istrinya, Ana Hale, es batu bukan sekadar air yang membeku. Di balik bongkahan es yang mereka produksi, tersimpan harapan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, dan mempertahankan usaha kecil yang telah mereka rintis dengan susah payah. Namun, harapan itu kini harus tertahan.
Sejak Juni 2026, usaha es batu yang dikelola pasangan suami istri melalui Kios Alexa di Dusun Rainain B, Desa Kletek, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa berhenti sementara. Mereka khawatir lemari pembeku yang digunakan mengalami kerusakan akibat tegangan listrik yang diduga tidak memadai.
Padahal, usaha tersebut memiliki pelanggan tetap, terutama para nelayan yang membutuhkan es batu untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan sebelum dipasarkan di Betun, ibu kota Kabupaten Malaka.
Bagi Frendy dan Ana, berhentinya produksi bukan sekadar kehilangan kesempatan berjualan. Ada penghasilan keluarga yang terhenti, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan.
Dari lima lemari pembeku, tumbuh harapan keluarga
Perjalanan usaha Frendy dan Ana dimulai sekitar 2024. Dengan memanfaatkan air sumur atau air bor serta membeli plastik sebagai bahan kemasan, mereka mulai memproduksi es batu untuk memenuhi kebutuhan nelayan setempat.
Mereka menggunakan lima lemari pembeku, terdiri atas empat unit bermerek LG dan satu lemari pembeku tipe duduk bermerek Politron.
Usaha yang dirintis secara sederhana itu perlahan memiliki pelanggan. Dalam sekali produksi, mereka dapat menyiapkan sekitar 500 bungkus es batu dengan harga Rp1.000 per bungkus.