Adi Bere: Dari Kursi Sopir Menuju Kursi Rakyat

Reporter: Novry Laka 
| Editor: Novry Laka

Mengadu Nasib di Luar NTT

Seorang putra kelahiran Biudukfoho, kecamatan Rinhat, Adrianus Yuventus Bere memecah asumsi publik tentang yang ‘tak mungkin menjadi mungkin’. Adrianus atau yang familiar dikenal dengan AB (kependekan dari Adi Bere), sebelum ‘gila’ dengan dunia politik, Ia mengadu nasib di tanah rantau.

Bacaan Lainnya

Terlahir dari keluarga petani tulen, plus anak tukang bangunan, Ia menghayati kerja-kerja nyata dengan ketulusan hati; beranggungjawab dengan tugas dan pekerja keras. Tak heran, mental baja itu telah tertanam kuat dari dalam keluarga dan terbawa hingga saat ini.

Apapun pekerjaannya, selagi dipercayakan, Ia tentu akan jalankan dengan riang gembira. Tak sadar, AB menghayati apa yang disabdakan dalam Kitab Suci, “barang siapa setia dengan perkara-perkara kecil, Ia setia juga dalam perkara-perkara besar”.

Bertahun-tahun pergulatan hidup dilaluinya di tanah rantau. Ia berproses dari hal-hal kecil. Perihal-perihal kecil itu Ia urai dengan totalitas. Ia lalu memutuskan untuk kembali ke daerah sendiri. Tanah kelahirannya. Sebagai seorang sopir, Ia tak banyak berbuat. Namun, tetap setia dengan tugas dan kepercayaan yang diberikan padanya.

Awal tahun 2020, titik awal AB terjun dalam dunia politik di Malaka, NTT. Meskipun dipercayakan sebagai seorang sopir, namun tidak sekedar sopir. Sambil memainkan stir bundar, embrio naluri dan nalar politiknya mulai tumbuh dan mencuat.

Tunas politik terus bertumbuh dan meronta-ronta di isi kepalanya, dan ‘feeling’ politiknya pun terus merangkak menuju dewasa. AB akhirnya dipercayakan sebagai pengemudi mobil berplat DH 01 J (Kendaraan dinas Bupati Malaka). Ia tak hanya memutar stir bundar di jalanan. Setiap lintasan memacunya untuk terus tancap gas menuju klimaks politiknya.