Namun, tradisi bukan sekadar sesuatu yang terus diulang. Tradisi menjadi bermakna ketika nilai-nilai di dalamnya tetap hidup dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
Karena itu, perjalanan Ina Maria Nai Feto Malaka dari satu paroki ke paroki lainnya dapat dimaknai sebagai undangan untuk memperbarui kehidupan iman, bukan hanya merayakan sebuah kebiasaan keagamaan.
Ketika Iman Bertemu Identitas Malaka
Sebutan Ina Maria Nai Feto Malaka mengandung kedekatan emosional dengan identitas masyarakat setempat. Maria dipahami sebagai seorang ibu yang hadir, merangkul, dan menyatukan.
Dalam kehidupan masyarakat Malaka, nilai keibuan, kekeluargaan, penghormatan terhadap sesama, serta semangat gotong royong merupakan bagian penting dari kehidupan bersama.
Iman Katolik yang tumbuh di tengah masyarakat tidak seharusnya membuat orang Malaka kehilangan akar budayanya. Justru melalui iman, nilai-nilai luhur budaya dapat semakin dimurnikan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah inkulturasi menemukan maknanya. Iman tidak berhenti di dalam gedung gereja, tetapi hadir dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya, menghormati orang tua, menjaga alam, membangun keluarga, serta mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, pelukan Ina Maria bukan hanya sebuah gambaran devosional. Ia juga menjadi simbol harapan agar masyarakat Malaka tetap menjadi satu keluarga di tengah berbagai perbedaan.
Bukan Hanya Berdoa, tetapi Juga Bersaudara
Perarakan tahun ini tidak hanya diisi dengan kegiatan rohani. Panitia juga menghadirkan berbagai perlombaan dan pertandingan antarparoki.