DI BAWAH PELUKAN INA MARIA NAI FETO MALAKA: MERAWAT IMAN DAN PERSAUDARAAN DI TANAH MALAKA

Reporter: Putra Niron 

Oleh: Putra Niron

SUARATRIBUN.COM, BETUN – Ada perjalanan yang tidak sekadar ditempuh dengan langkah kaki, tetapi juga dengan iman, doa, dan kerinduan. Ada pula perjumpaan yang tidak hanya menghadirkan sukacita, tetapi mengajak manusia kembali melihat dirinya sendiri. Itulah kira-kira makna yang dapat ditemukan dalam Perarakan Besar Dekenat Malaka Tahun 2026.

Sejak 1 September 2026, patung Bunda Maria yang dikenal dengan gelar Ina Maria Nai Feto Malaka memulai perjalanan mengunjungi 20 paroki di wilayah Dekenat Malaka. Dari satu paroki ke paroki lainnya, kehadiran patung Bunda Maria disambut umat dengan doa, perayaan Ekaristi, devosi, dan berbagai ungkapan sukacita.

Tahun ini, perarakan mengusung tema “Malaka dalam Pelukan Ina Maria Nai Feto Malaka”. Sebuah tema yang tidak hanya berbicara tentang kedekatan umat dengan Bunda Maria, tetapi juga menyimpan pesan tentang identitas, kebersamaan, dan persaudaraan masyarakat Malaka.

Sebuah Tradisi, Sebuah Perjalanan Iman

Perarakan Besar Dekenat Malaka memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Tradisi ini telah dimulai sejak 1928 dan terus menjadi bagian penting dalam kehidupan iman umat Katolik di wilayah Malaka.

Perubahan waktu dan keadaan tidak menghentikan tradisi tersebut. Pandemi COVID-19 pada 2020 sempat membuat perarakan tidak dapat dilaksanakan. Setelah itu, melalui keputusan bersama, pelaksanaannya dilanjutkan dengan siklus dua tahun sekali.

Kini, tahun 2026 menjadi momentum perjumpaan kembali umat dengan tradisi iman yang diwariskan dari generasi ke generasi.