SUARATRIBUN.COM, BETUN – Sedikitnya enam titik tanggul di sepanjang Sungai Benenai masih membutuhkan perhatian serius Pemerintah Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan SBS–HMS, guna menekan risiko banjir yang masih mengancam wilayah dataran rendah meski sebagian pembangunan telah menunjukkan hasil positif.
Pembangunan tanggul di sepanjang Sungai Benenai mulai menunjukkan dampak positif dalam mengurangi risiko banjir di wilayah dataran rendah Kabupaten Malaka, meski masih dibutuhkan lanjutan pembangunan di sejumlah titik rawan.
Dalam pantauan SuaraTribun.com, Sungai Benenai melintasi sejumlah desa di bagian utara dan selatan wilayah dataran rendah.
Untuk bagian utara, wilayah terdampak meliputi Desa Bakiruk, Desa Angkaes, Desa Wederok, Desa Lamudur, Desa Forekmodok, Desa Naimana, Desa Fahiluka, Desa Lawalu, hingga Desa Motaain.
Sementara di bagian selatan, aliran sungai melewati Desa Haitimuk, Desa Kleseleon, Desa Motaulun, Desa Naas, Desa Maktihan, Desa Besikama, Desa Lasaen, Desa Fafoe, Desa Sikun, Desa Oan Mane, hingga Desa Umatoos.
Sejumlah titik di bagian utara telah dibangun tanggul, khususnya di Desa Lamudur, Forekmodok, Naimana, Fahiluka, Lawalu, hingga Motaain.
Kepala Desa Motaain, Ambrosius Klau, mengatakan pembangunan tanggul di wilayahnya telah mencapai panjang sekitar 600 meter.
“Kita berharap pemerintah daerah Kabupaten Malaka dapat melanjutkan pembangunan tanggul. Jika hujan dengan intensitas tinggi, maka tetap berpotensi terjadi banjir,” ujarnya kepada suaratribun.com, Senin (27/4/26).