“Dengan berkurangnya dana desa reguler tahun 2026, tentu berdampak pada anggaran untuk membiayai kegiatan sosial kemasyarakatan yang diluar prioritas pemerintah pusat. Kegiatan sosial memang terlihat biasa-biasa saja, tapi terus menerus dilaksanakan, seperti acara adat, kedukaan, ulang tahun, sambut baru, pemandian anak, acara rumah adat dan masih ada lagi. Sebagai kepala desa, kegiatan sosial seperti ini pasti selalu hadir,” jelas Ida Hoar.
Semua kegiatan sosial tersebut, bila bergantung pada dana desa, memang sedikit sulit, karena anggarannya terbatas sementara kegiatannya banyak dan sering dilakukan di tengah masyarakat. Untuk menyiasati semua itu, Ida Nahak yang dikenal dengan sosok peduli, dan jiwa sosial tinggi ini rela menguncurkan uang pribadinya untuk membantu masyarakat.
“Yah, berbagi kasih itu baik. Bagi saya, mau pakai uang pribadi tidak masalah asalkan untuk kebaikan masyarakat. Dan jangan dilihat nilainya tapi ketulusan dan kepedulian yang harus dimaknai”, ungkap sosok Kades yang rendah hati ini.
Menurut Ida, dunia digital saat ini memiliki peluang besar untuk menambah penghasilan. Modalnya, hanya handphone, pulsa dan konsisten membuat konten. Dari sumber penghasilan alternatif ini bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan. Bahkan bila penghasilannya sudah lebih besar, ia akan membantu masyarakat berupa barang kebutuhan pokok.
Di akhir penyampaiannya, Ida Hoar Nahak berharap masyarakat tetap mendukung program pembangunan di Desa Taaba. Dukungan tersebut, menurutnya, penting agar upaya pemerintah desa baik melalui dana desa maupun inisiatif pribadi, dapat berjalan sejalan demi kesejahteraan bersama.