Di tengah kenyataan seperti ini, pesan persaudaraan yang dibawa Perarakan Besar Ina Maria Nai Feto Malaka menjadi semakin relevan.
Maria mengajarkan kerendahan hati, kesetiaan, keberanian, dan kepedulian. Dalam peristiwa perkawinan di Kana, misalnya, Maria menunjukkan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Ia melihat persoalan yang sedang dihadapi dan mengarahkan perhatian kepada Yesus.
Teladan itu mengajak setiap orang untuk tidak menjadi pribadi yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Iman harus melahirkan kepekaan terhadap penderitaan, keberanian memperjuangkan kebaikan, dan kesediaan membantu sesama.
Maka, devosi kepada Ina Maria seharusnya tidak berhenti pada doa dan penghormatan terhadap patungnya. Devosi itu perlu menemukan wujud nyata dalam kehidupan: menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menolak kekerasan, memperhatikan mereka yang lemah, dan membangun Malaka dengan semangat kejujuran serta tanggung jawab.
Sebab, tidak banyak artinya kita berjalan bersama Bunda Maria jika dalam kehidupan sehari-hari kita justru berjalan menjauhi sesama.
Ketika Perarakan Selesai, Perjalanan Belum Berakhir
Sejak 29 malam, patung Ina Maria Nai Feto Malaka telah kembali ke Dekenat setelah menyelesaikan perjalanan mengunjungi 20 paroki. Perlombaan dan pertandingan telah menemukan pemenangnya. Panitia telah menutup seluruh rangkaian kegiatan, dan umat mulai kembali kepada rutinitas masing-masing.
Namun, ada sesuatu yang seharusnya tidak ikut berakhir: semangat persaudaraan.
Sebab, keberhasilan sebuah perarakan tidak hanya diukur dari kemeriahan penyambutan, banyaknya peserta, atau suksesnya seluruh perlombaan. Keberhasilan yang lebih mendalam terlihat ketika umat mampu membawa pulang nilai-nilai yang mereka rayakan.
